DIAM BUKAN WARISAN MEMBONGKAR HEGEMONI HMI-WAN KOHATI BERANI MEREBUT PANGGUNG
DIAM BUKAN WARISAN MEMBONGKAR HEGEMONI HMI-WAN KOHATI BERANI MEREBUT PANGGUNG Suara Kohati seringkali redup dalam forum-forum HMI. Meski hadir secara fisik, kontribusi substantif mereka hanya datang dari segelintir individu. Mayoritas memilih bungkam, seakan ruang intelektual adalah domain eksklusif HMIwan. Fenomena ini merepresentasikan budaya diam yang mengikis marwah Kohati sebagai badan semi-otonom yang seharusnya menjadi lokomotif pemberdayaan perempuan HMI. Padahal, Pedoman Dasar Kohati menegaskan mandat untuk berperan aktif. Namun realitasnya kontradiktif: Kohati lebih sering menjadi pengikut daripada pelopor, pendengar daripada penggagas. Sikap pasif ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari takut salah, khawatir dicap menentang dominasi HMIwan, hingga alasan pragmatis bahwa diam lebih aman. Alasan-alasan ini, jika dipelihara, akan menjadi warisan kultural yang membelenggu generasi berikutnya dalam kebisuan. Urgensi kesetaraan gender relevan di sini. Selama Kohati pasif, rua...