DIAM BUKAN WARISAN MEMBONGKAR HEGEMONI HMI-WAN KOHATI BERANI MEREBUT PANGGUNG

DIAM BUKAN WARISAN MEMBONGKAR HEGEMONI HMI-WAN KOHATI BERANI MEREBUT PANGGUNG

Suara Kohati seringkali redup dalam forum-forum HMI. Meski hadir secara fisik, kontribusi substantif mereka hanya datang dari segelintir individu. Mayoritas memilih bungkam, seakan ruang intelektual adalah domain eksklusif HMIwan.


Fenomena ini merepresentasikan budaya diam yang mengikis marwah Kohati sebagai badan semi-otonom yang seharusnya menjadi lokomotif pemberdayaan perempuan HMI. Padahal, Pedoman Dasar Kohati menegaskan mandat untuk berperan aktif. Namun realitasnya kontradiktif: Kohati lebih sering menjadi pengikut daripada pelopor, pendengar daripada penggagas. Sikap pasif ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari takut salah, khawatir dicap menentang dominasi HMIwan, hingga alasan pragmatis bahwa diam lebih aman. Alasan-alasan ini, jika dipelihara, akan menjadi warisan kultural yang membelenggu generasi berikutnya dalam kebisuan.


Urgensi kesetaraan gender relevan di sini. Selama Kohati pasif, ruang diskursus dan pengambilan keputusan tetap di bawah hegemoni HMIwan. Wacana kesetaraan pun menjadi retorika kosong tanpa daya transformatif. Esensi kesetaraan bukanlah menyeragamkan peran, tetapi memastikan kesempatan setara untuk berkontribusi, berpendapat, dan memimpin. Bayangkan forum HMI yang diwarnai keberanian intelektual proporsional dari kedua belah pihak. Diskusi akan lebih kaya, keputusan lebih visioner, dan gerakan lebih kokoh. Tanpa keseimbangan, HMI ibarat burung terbang dengan satu sayap pincang dan tidak maksimal.


Budaya diam melemahkan dinamika organisasi dan berisiko melahirkan generasi apatis serta tidak kritis. Lebih buruk lagi, budaya ini mengukuhkan stigma klasik bahwa perempuan HMI layak di belakang layar, padahal Kohati justru lahir untuk mendobrak stigma tersebut. Membangkitkan Kohati dari pasifisme berarti mengembalikan ruh perjuangannya. Kohati harus berani merebut ruang, melatih keberanian intelektual, dan menegaskan eksistensi. Kesalahan dalam berbicara adalah bagian dari dialektika, sementara diam adalah pengingkaran terhadap khittah perjuangan.


Langkah strategis harus segera diambil: membangun ruang aman internal, memperkaya latihan kepemimpinan dan retorika, serta menanamkan kesadaran kolektif bahwa diam bukanlah pilihan. Bersuaralah, meski belum sempurna, karena hanya dengan keberanian itu kesetaraan gender dapat bertransformasi menjadi kenyataan. Jika Kohati tetap bungkam, ia hanya akan menjadi catatan pinggiran sejarah HMI. Namun jika bangkit dan menyuarakan pemikiran, HMI akan tegak dengan dua sayap kokoh: HMIwan dan HMIwati yang kritis, progresif, dan berdaya dalam harmoni kesetaraan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maba Bukan Budak Senior

HMI Komisariat Istiqlal UIM Gelar pelantikan Lembaga Kajian Dan Penelitian (LKP) Periode 2025-2026

Nurcholish Madjid - Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan