HILANGNYA JIWA PENDIDIK SEJATI SURAT TERBUKA MAHASISWA UNTUK SANG DOSEN
HILANGNYA JIWA PENDIDIK SEJATI SURAT TERBUKA MAHASISWA UNTUK SANG DOSEN
Izinkan kami menyapa, Ibu/Bapak Dosen, bukan tanpa alasan. Sebab, kini tampak sangat berbeda. Menyerap pengetahuan dari pusat-pusat akademik dunia. Namanya pun semakin dikenal muncul di layar televisi, pendapat nya dikutip media, dan suaranya menggema seolah menjadi petuah yang dinantikan.
Anda juga semakin berpengaruh, kekuasaan seakan menjadi bagian dari identitas baru. Semakin mapan secara finansial, mahir mengelola proyek, kepiawaian mencari dana hibah, serta mampu mengubah pengetahuan menjadi komoditas bisnis. Kerap sebagai saksi di pengadilan ahli sebuah profesi sampingan nonprestisius, tetapi juga menguntungkan secara ekonomi. Beberapa yang lain duduk dalam jajaran komisaris perusahaan, menikmati kenyamanan hidup dengan segala fasilitasnya.
Namun, bukan lagi sosok dosen yang dulunya mudah dijumpai, terbuka terhadap kritik, dan gemar berdiskusi. Dosen yang senantiasa menyempatkan diri untuk membahas isu keadilan, perlawanan, ataupun membedah kebijakan kampus bersama mahasiswanya. Kini, Anda lebih menyerupai figur publik selebritas akademik yang dikenal banyak orang, namun tidak lagi mengenal mahasiswanya sendiri. Anda datang hanya untuk berbicara, lalu segera pergi dengan alasan kesibukan yang tiada henti.
Waktu perkuliahan pun menjadi teka-teki. Kehadiran tidak dapat dipastikan kadang hadir tepat waktu, kadang tidak datang sama sekali. Bila mahasiswa kecewa, Anda tidak merasa perlu meminta maaf. Bagi Anda, solusi terbaik adalah menyesuaikan jadwal kuliah dengan kesibukan Anda. Barangkali Anda beranggapan bahwa mahasiswa akan senang jika dosennya jarang hadir.
Namun, prasangka Anda terhadap mahasiswapun sering kali berlebihan. Beranggapan bahwa mahasiswa adalah anak muda yang harus patuh sepenuhnya, patuh pada seluruh peraturan kampus, masuk tepat waktu, membayar administrasi sesuai jadwal, dan lulus tepat waktu. Mahasiswa percaya bahwa semua peraturan dibuat demi kebaikan mereka sendiri. Idealnya, menurut Anda, mahasiswa harus rela menjadi pendukung segala aktivitas Anda: menggarap proyek, membantu riset, hingga menuliskan laporan penelitian atas nama Anda. Sayangnya, semakin sulit memahami realitas mahasiswa. Anda semakin jauh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara empati.

Komentar
Posting Komentar