๐™†๐™š๐™ข๐™š๐™ง๐™™๐™š๐™ ๐™–๐™–๐™ฃ ๐™ฎ๐™–๐™ฃ๐™œ ๐˜ฟ๐™ž๐™ ๐™๐™ž๐™–๐™ฃ๐™–๐™ฉ๐™ž, ๐™๐™–๐™ ๐™ฎ๐™–๐™ฉ ๐™ˆ๐™–๐™จ๐™ž๐™ ๐™๐™š๐™ง๐™Ÿ๐™–๐™Ÿ๐™–๐™ ๐™™๐™ž ๐™‰๐™š๐™œ๐™š๐™ง๐™ž๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™Ž๐™š๐™ฃ๐™™๐™ž๐™ง๐™ž


 Kemerdekaan yang Dikhianati: Rakyat Masih Terjajah di Negerinya Sendiri

Kondisi Indonesia yang kian carut-marut menunjukkan betapa sering kebijakan justru merugikan
rakyat, meski dijalankan atas nama kepentingan mereka. Penderitaan, kemiskinan, ketimpangan keadilan, hingga maraknya aparat dan politisi yang meresahkan, seolah menjadi deretan masalah yang tak kunjung terselesaikan.

Lalu, apa sebenarnya makna dari peringatan hari kemerdekaan? Apakah cukup hanya dengan mengibarkan bendera di setiap sudut negeri, sementara kebebasan rakyat masih kerap dipertanyakan? Sejatinya, kemerdekaan harus berlandaskan rasa kemanusiaan, bukan dibangun di atas tekanan dan ketidakadilan.

Kemerdekaan seharusnya menjadi milik rakyat, bukan sekadar simbol yang dirayakan oleh segelintir elit di panggung kekuasaan. Namun, yang kita saksikan hari ini sering kali hanya kebanggaan semu. Di balik gegap gempita perayaan, rakyat kecil masih harus berjuang melawan mahalnya harga kebutuhan pokok, sulitnya akses kesehatan, dan kebijakan yang lebih berpihak pada pemodal dibanding kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Ironisnya, kemerdekaan kerap dipersempit sebatas kebebasan berbicara. Tetapi ketika suara rakyat menuntut keadilan, justru dibungkam dengan aturan, tekanan, bahkan kekerasan. Seolah-olah kemerdekaan hanya berlaku bagi mereka yang memiliki jabatan.

Jika demikian, untuk siapa sebenarnya kemerdekaan ini? Apakah bangsa ini hanya merdeka di atas kertas, sementara rakyatnya masih terikat rantai ketidakadilan dan kemiskinan?

Kemerdekaan sejati tidak bisa hanya berdiri di atas tiang bendera. Ia harus berdiri di atas keberanian menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Tanpa itu semua, setiap perayaan hanyalah pesta seremonial yang menutupi luka bangsa. Merdeka sejati baru bisa kita raih bila negara benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada segelintir elit.

Masihkah kita memiliki nyala untuk menyalakan api nasionalisme di tengah keadaan yang semakin mencemaskan?

Saya, Mardhatillah, mahasiswa Universitas Islam Madura, mengucapkan Selamat Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-80. Semoga kemerdekaan ini benar-benar menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Penulis : Mardhatillah

Editor : Tim Media

___________

Setiap tulisan yang diposting di hmiuim05.blogspot.com sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maba Bukan Budak Senior

HMI Komisariat Istiqlal UIM Gelar pelantikan Lembaga Kajian Dan Penelitian (LKP) Periode 2025-2026

Nurcholish Madjid - Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan